Koran Pertama di Batavia, Bertahan Dua Tahun

KOMPAS.com — Pada mulanya adalah Benyamin Haris yang menerbitkan surat kabar pertama di Boston, Amerika, tahun 1690. Pada masa itu, kawasan tersebut masih jadi jajahan Inggris. Gaung penerbitan surat kabar yang sudah dikenal bangsa Eropa sejak abad ke-17 itu sampai juga ke Batavia. Izin menerbitkan surat kabar kala itu tak mudah sebab penguasa VOC alergi terhadap kritik atau sekadar komentar. Soal penguasa yang alergi kritik rupanya masih saja terbawa hingga di abad milenium ini.

Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC periode 1743-1750, tak hanya membangun gedung Toko Merah, Academi de Marine, mendirikan masyarakat candu di Batavia, tetapi juga memperkenalkan warga Batavia dengan yang namanya surat kabar. Izin terbit surat kabar itu baru diberikan setelah sekitar lima bulan diajukan: 7 Agustus 1744 diajukan, izin terbit baru keluar Februari 1745. Sifat penguasa VOC yang enggan pada kritik menjadi salah satu alasan Imhoff ogah-ogahan menerbitkan izin. Padahal, isi surat kabar yang pertama kali terbit itu hanya memuat aneka berita tentang kapal dagang VOC, mutasi pejabat, berita perkawinan, kelahiran, dan kematian. Pembacanya juga terbatas pada masyarakat Belanda sendiri.

Bataviasche Nouvelles, begitu nama koran itu. Dari hanya berisi pengumuman, koran ini kemudian berkembang cepat menjadi koran yang berisi kritik terhadap perbudakan di Batavia dan perilaku penguasa VOC. Tepat pada 20 Juni 1746, demikian dicatat dalam buku Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepi Muara Ciliwung oleh Thomas B Ataladjar, koran pertama ini dibredel. Kiprah Imhoff yang berusia pendek, meninggal pada tahun 1750 ketika ia masih menjabat sebagai gubernur jenderal, baru dilanjutkan 30 tahun kemudian. Verdu Nieuws meneruskan Bataviasche Nouvelles dalam bentuk surat kabar mingguan yang berisi iklan.

Koran lain, Al Juab, muncul di tahun 1795 yang berisi tentang agama Islam. Namun, koran ini tak bertahan lama. Koran berbahasa Melayu, dan merupakan koran pertama untuk umum ini, mati pada 1824. Pengganti surat kabar ini adalah Bianglala yang kemudian berganti nama menjadi Bintang Johar.

Sementara itu, nasib Verdu Nieuws atau Surat Lelang berganti nama menjadi Bataviasche Koloniale Courant di masa Daendels. Di masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1811-1816), terbit surat kabar Java Gouvernment Gazette yang kemudian berganti nama menjadi Bataviasche Courant di saat Batavia kembali ke tangan Belanda. Koran ini terus hidup dan berganti nama menjadi Javasche Courant pada 1827. Di zaman Jepang, 1942, koran ini berganti nama menjadi Ken Po. Pada tahun 1852 muncul pula koran Java Bode yang bertahan hingga 1958.

Tahun 1870 hingga 1886 di Batavia ada surat kabar Bintang Barat yang terbit dua kali seminggu. Koran ini menjadi harian hingga 1889. Pada perkembangan selanjutnya, orang Tionghoa dan Belanda berperan penting dalam penerbitan surat kabar.

Tentang arvendomahardika

seneng sing apik-apik wae!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Pos ini dipublikasikan di Berita Hangat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s